Danang Rusdy | Liga Kritik Pehagengster

 Oleh: Danang Rusdy

 

Akhir-akhir ini pokok bahasan perihal sejarah serta dinamika kesenian di setiap kota semakin marak diperbincangkan. Salah satu yang paling hangat adalah film dokumenter YK 48. Film besutan sutradara Kiki Pea ini mengangkat geliat perfilman yang terjadi di kota pelajar, Yogyakarta. Sekolah film dan teater Cine Drama Institute yang berdiri sejak 1948 dengan tokoh sentral Hinatsu Eitaroo alias Dr. Hu Yung menjadi titik awal perjalanan. Lewat penuturan dari sejumlah saksi hidup, pelaku dan pegiat sinema para penonton diajak mengecap beragam informasi yang tersebar secara sporadis

 

Masa-masa keruntuhan Orde Baru menjadi bagian krusial dalam pergerakan ruang-ruang produksi sekaligus apresiasi. Film ini mempertegas citra medan sosial kota Yogyakarta yang sarat akan keberadaan serta kekuatan modal sosial. Menarik untuk menyimak ruang-ruang informal lahir dari keragaman latar belakang yang berbeda-beda, sebagaimana praktik kerja De Javu Production yang memandang karya film sebagai media komunikasi. Di sisi lain, proses kreatif Anggi Noen yang menggunakan kaset Coldplay sebagai soundtrack lagu dan juga terstimoni BW Purbanegara tentang rental film sebagai ruang kelas memberi gambaran betapa antusiasme begitu membuncah hingga menerabas segala keterbatasan

 

Ketersediaan komunitas juga tidak melulu berlandaskan etos kerja produksi film. Ruang-ruang apresiasi dibangun melalui forum-forum festival yang diinisiasi oleh FFD, pemutaran film di ruang publik oleh Kinoki hingga wilayah kerja penelitian yang menjadi prioritas Rumah Sinema. Ada kesadaran untuk membangun support system dalam rangka menciptakan ekosistem yang sehat dan dinamis. Warisan tersebut terus berlanjut hingga generasi terbaru yang diwakili oleh Cinemartani

 

Tentu bukan perkara mudah untuk mengurai sejarah panjang perfilman tersebut dalam durasi 48 menit. Berbagai pertanyaan serta rangkaian data yang mungkin tercecer membuka peluang lebar bagi kemunculan karya dokumenter dengan tema pembahasan yang lebih spesifik.

 

Semisal relasi kuasa yang terjadi ketika Puskat mengadopsi spirit teologi pembebasan dan harus berhadapan dengan representasi negara yang mengidentifikasi setiap gerakan kritis sebagai bentuk komunisme gaya baru. Atau pernyataan apokiliptis dari Adrian Jonathan perihal anggapan bahwa dinamika dunia perfilman hanya melulu persoalan produksi. Bentuk ketimpangan yang sudah menjadi kewajaran.

 

Usaha Pehagengsi untuk menginisiasi acara pemutaran di sejumlah kota patut diacungi jempol. Interaksi dua arah yang terjalin dengan para pehagengster memberikan harapan bagi lahirnya karya-karya dokumenter sejenis. Betapa identitas budaya dari Lombok Utara, Medan, Buleleng, ataupun Palu turut serta memperkaya dunia perfilman tanah air. Tidak melulu Jawa sentris.

 

Aku adalah produk revolusi berlambang kemajuan teknologi

Aku ditampilkan tanpa suara, tanpa warna, tanpa kuasa

Tapi di sini, di tanah ini

Aku menjadi senjata pengusir para penjajah!

 

-

Tulisan ini adalah rangkaian acara Pehagengster dengan tajuk Liga Kritik Pehagengster. Penonton bebas mengkritik, mereview, atau saling berpantulan bebas dalam medium apapun (teks, audio, video, dll) dan dikirim ke kami melalui google form dalam rentang 30 Maret – 10 Mei 2022. Tulisan ini bertolak dari 2 film pendek terbaru kami, YK 48 & PDKT 6 Minggu. Tulisan ini dinilai oleh Adrian Jonathan Pasaribu selaku wasit. Selamat membaca!


 

Comments