JAFF: Remang yang Jarang Dibicarakan


Ada kisah seperti ini, yang sepertinya kerap berlalu-lalang sebelum JAFF: film maker muda tumbuh, produksi tambah, teknologi melesat, ruang diskusi melebar, tetapi penontonnya terbatas. Dengan kata lain belum melampaui tembok regional. 

Penonton film, di ruang-ruang kampus adalah teman sendiri, atau teman dari teman berkat kekuatan cangkem dibarengi publikasi kecil-kecilan. Ada yang nekad juga memutar filmnya di bioskop (Baca: Posisi Fajar Nugros dalam Kronik Nekad Dunia).

Ketika keran budaya tak lagi punya lembaga sensor setelah Orde Baru (Orba) jatuh, akses terhadap referensi film meluas. Terlebih dengan munculnya internet, wah referensi enggak sekadar golden era-nya Hollywood. Sineas bisa dengan mudah ngobrolin film-film bikinan Barandos Ceko sampai Hong Kong New Wave. Semuanya bisa diakses. Tema film juga meluas. Intinya Jogja kala itu cukup kaya, kaya banget. 

Beberapa bulan setelah gempa besar yang nyaris meratakan Jogja, JAFF datang. Garin Nugroho dan kawan-kawan memancang pernyataan bahwa inilah festival film di Jogja yang melibatkan sepertiga dunia. Semua film bisa disaksikan di sana, dari fiksi sampai dokumenter. Didukung dana yang cukup besar plus kampanye penyelenggaraan yang 'wangi' seperti dihelat sebagai bagian sekaligus merayakan Milad Jogja, penyelenggaraannya sukses besar.

Kali pertama menancapkan bendera, tamu-tamu dari luar negeri datang, menjadi bagian JAFF. Sineas muda bergairah karena JAFF menawarkan peluang yang dulu sulit terproyeksikan: film mereka disaksikan dunia!

Mereka yang datang enggak hanya berstatus sebagai sineas, film maker, atau pegiat budaya. Acaranya juga nggak melulu nonton film, kaya banget lah pokoknya. Penontonnya datang dari beragam latar belakang. Sineas yang filmnya diputar di sana girang bukan main. Layar JAFF, kala itu, bisa dibilang telah melampaui bioskop.

Gengs..

Tiap peristiwa selalu punya sisi remang. Enggak ada yang tunggal karena realitas selalu punya banyak wajah. Bunuh diri massal penganut Heavenly Gate di Amerika tahun 90an tidak bisa menutupi fakta bahwa institusi agama tak bisa menyelesaikan atau mengukur kebahagiaan tiap orang yang sempat mengenalnya. Populernya video aerobik Jade Fonda yang diadopsi Berty Tilarso nggak bisa menyembunyikan fakta bahwa televisi pada saat itu selalu mengedepankan maskulinitas.

Apalagi JAFF. Peristiwa, momen, sekaligus pertemuan kebudayaan itu perlahan menampilkan wajah lain yang cukup berbahaya. JAFF, secara natural menciptakan ukuran di dunia sineas. JAFF menjadi mimpi indah sekaligus pencapaian tertinggi, yang sialnya melahap banyak kemungkinan lain. Yosep Anggi Noen, membeberkan salah satu efek ‘remang’ bagi sineas muda, tanda waspada sekaligus pentingnya memahami diri sendiri.

“Kultur yang belum terbentuk dari hadirnya JAFF adalah selling your self. Ada banyak penghalang, nggak tahu ya kenapa atau apa yang tidak bisa dilompati. Maka sekarang yang di scoop besar ya itu-itu saja. Ada yang muda tapi sedikit lah, begitu sih menurutku,” beber Joseph Anggi Noen.

Sineas asal Moyudan yang menyutradari “Hiruk Pikuk Si Alkisah”, “The Science of Fictions”, “Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya”, “Kisah Cinta yang Asu”, “Istirahatlah Kata-Kata”, dan banyak film keren lainnya itu sebenarnya salah satu orang yang ikut mendirikan JAFF pertama. Dia agak lupa tahun berapa dia keluar dari JAFF. 

Alasannya, karena ingin dikenal sebagai film maker. Tanda bahwa dia tak mau terus-terusan di zona nyaman sekaligus mengejar mimpi yang jauh lebih besar.

“Supaya aku leluasa bilang, ‘Saya Yosep Anggi Noen, saya film maker,” tandasnya.

Comments