Menguruk Gelapnya Sejarah Film Lewat Arsip

pehagengsi

 Hai Gengs...

Jogja mulai normal nih. Jalanan makin padat. Motor dan mobil mulai berebut ruang dengan bus pariwisata yang memburu waktu. Mesin espresso di cafe-cafe kembali bekerja, mendesis seperti ular marah di punggung barista yang tengah melayani pesanan anak-anak muda.

Kantung-kantung kesenian mulai sibuk, terpacu banyak event yang terbilang sukses digas saat pandemi. Ruang publik mulai dibuka dengan syarat dan ketentuan—yang arbitrer. Begitu pun ruang privat, tak gagap lagi membuka pintu. Radio Boekoe tuh salah satunya. Jutaan arsip dan buku-buku di sana sudah bisa diakses offline sehingga kita bisa nyantai sambil baca-baca masa depan atau kembali ke masa lalu sambil menyeruput kopi bikinan sendiri atau dari. burjo yang berjarak 20 meter dari Radio Boekoe.

Supergrup YK48 sowan ke Radio Boekoe, markas besar Muhidin M.Dahlan alias Gus Muh, Sabtu (9/10) sore. Tim mulai jalan bikin film yang prosesnya nyaris serupa pembuatan peta zaman Jack Sparrow: menyatukan titik-titik terlebih dahulu sebelum menyambungkannya menjadi bentuk tertentu yang diperindah warna. Ketemu Gus Muh di Radio Boekoe itu wajib hukumnya gengs. Selain penulis, novelis, dan pegiat literasi, Gus Muh ini pengepul arsip yang jago baca zaman dari tumpukkan laporan, koran, sampai buku-buku yang nasibnya entah.

Jangan bayangkan penampilan Gus Muh seperti kiai dalam film-filmnya Hanung Bramantyo ya. Jauh banget! Gus Muh cukup trendi. Dia mengatur rambutnya macam Genji Takiya, Main Character, Crows Zero I & II: naik cepolnyq, berkelahi sudah! Wajahnya sangat mendukung pula! Woraaa worraaa worraaa! Dia ‘Gus’ yang trendi. Penampilannya kayak anak muda, kaosan dipadu hem bermotif batik tanpa kancing dengan jogger pants plus sneaker.

Oh iya, gelar ‘Gus’ Muhidin ini bukan tanda dia anak atau mantu kiai loh. Gelar itu semacam penghormatan dari temen-temen nongkrongnya karena banyak yang belajar—diistilahkan tongkrongan jadi nyantri—ke Gus Muh buat mengelola arsip lalu baca zaman dari arsip itu. Pas nyampe Radio Boekoe, anak-anak YK48 memang memosisikan diri sebagai santri di depan penulis “Tuhan Izinkan Aku Sebagai Pelacur” lengkap dengan keresek berisi gula, teh, kopi, peyek, dan makanan ringan lain, laiknya etika santri pedesaan sowan ke kiai.

Setelah basa-basi ramah tamah selayaknya bertamu ke rumah kiai—tanpa cium tangan—, YK48 langsung sakit kepala sama omongan Gus Muh. “Kalian ini berani betul bikin sejarah film, padahal ada bab yang gelap sekali. Kalau jadi (filmnya) enggak sekadar penting, tapi bisa jadi rujukan banyak sineas,” kata Gus Muh.

Sutradara YK48 Kiki Pea nyengir setelah mendengar komentar itu. Kiki yang ditemani Produser Rifqi Mansur Maya, sepertinya cukup terbakar dengan komentar periset Lembaga Kebudayaan Rakyat alias Lekra itu. Kiki bercerita panjang lebar tentang YK48 lalu mengelindankan kode agar Gus Muh membuka arsip dan kepalanya tentang peristiwa atau momen penting yang sejauh ini masih muram di pandangan penikmat—bahkan sineas—film Indonesia. Gus Muh, menangkap kode itu lalu mengeluarkan deretan fakta menarik.


Gengs..

Kronik film di Indonesia, suka tidak suka, percaya enggak percaya, memang muram. Dari arsip media, baik koran-koran di Jogja, buku, maupun hasil riset, perjalanan film di Indonesia tak seindah yang diarsip Google.

Perjalanan film di Indonesia itu sempat dipenuhi banyak terka dan terkam. Tuduhan-tuduhan yang bar-bar. Perkelahian jalanan yang memalukan. “Dari arsip-arsip lawas, sampai bakar-bakaran malah. Enggak hanya sindiran di media atau film antarsineas, gila enggak tuh,” cerita Gus Muh.

Kisah demi kisah dalam obrolan dengan sisipan gogon mengantar pada penemuan super penting: Hari Film Nasional. Sejarah mencatat 30 Maret ditetapkan Dewan Film Nasional sebagai Hari Film Nasional. Penetapan di tahun 1980an itu kabarnya diambil dari tanggal pengambilan gambar pertama “Darah dan Doa atau “The Long March of Siliwangi” (film perjalanan tentara Indonesia dari Jogja ke Siliwangi) yang dibikin Bapak Film Usmar Ismail melalui Perfini, perusahaan filmnya sendiri. Itu yang selama ini kita tahu kan? Padahal nih tahun 1964, Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra)—yang kerja kebudayaannya disukai Sukarno—menyepakati Hari Film Nasional pada 30 April.

Pernyataan itu mereka gaungkan di tengah berlangsungnya Festival Film Asia Afrika (FFAA) III di Jakarta. Enggak tanggung-tanggung, langsung di hadapan sepertiga dunia! Di depan Soekarno pula. Tapi fakta itu mendadak lenyap dari kronik film Indonesia setelah republik memasuki babak baru yang kita kenal dengan Orde Baru.

Enggak cuma itu yang tersingkap di sana Gengs...

Habis gelap terbitlah terang, kata Kartini. Tapi quote yang sering dikutip para buzzerRp atau mereka yang menemukan lalu memamerkan nasionalisme di feed Instagram tiap 21 April itu enggak berlaku pasca 65. Adanya habis gelap makin gelap.

Sejarah, yang ditulis pemenang menemukan bentuknya pasca 65. Kronik perfilman Indonesia ditulis oleh mereka yang menikmati rezim baru.  Sebagian sineas dan karya mereka ‘dihilangkan’ dari kronik film Indonesia. Kebiadaban semacam ini sebenarnya bukan hal baru di dunia. Tahun 30an Nazi membakar buku penulis berdarah Yahudi karena dipandang bertentangan dengan ideologi Nazi Pasca 65, Orde Baru melakukan hal serupa: memberantas memori kolektif orang-orang yang selamat lalu melanjutkan itu pasca 65. Brengsek emang!

Para sineas yang dekat dengan Lekra—sampai sekarang organisasi itu dituding terafiliasi dengan partai, padahal enggak—jadi hantu. Katot Sukardi misalnya. Beberapa judul filmnya memang sempat disebut-sebut. "Si Pintjang" (1952) yang diikutkan dalam Festival Internasional di Karlovy-Vary, Ceko tahun 1952 atau "Melati di Balik Terali". Namun hanya "Si Pintjang" yang raganya utuh. Selain itu zonk! Bagaimana rupanya, kisah asmara, pandangannya tentang film, sampai bagaimana dia meninggal, gelap.

"Sejarah kita adalah sejarah 'daftar'. Kotot adalah langganan daftar itu. Di film, ia adalah 'seniman daftar'. Di buku sejarah nasional, ia juga penghuni daftar 'hantu sejarah'," sambung Gus Muh.

Kita memang tidak hidup di perkelahian dan pengganyangan memori kolektif itu Gengs. Tidak tahu persis apa yang terjadi di film Indonesia sejak 48. Yang pasti, butuh keberanian sekaligus kenekatan besar untuk membicarakan lalu menaruhnya ke dalam film tanpa memosisikan sineas atau peristiwa sebagai lakon. Tanpa arsip keberanian itu hanya kata ganti dari bunuh diri.

Tags

Post a Comment

1Comments

  1. Slots Provider - JamBase
    In this regard, we take our slots 제천 출장마사지 games and give 성남 출장마사지 them free spins and prizes of up to €2500! And this is because 의왕 출장마사지 most casino players can only play the 의정부 출장마사지 demo of slots 순천 출장샵

    ReplyDelete
Post a Comment